Berderak kecil suara pintu rumah tua
Terlihat dari pintu kipas angin berdiri sendiri
Debu tebal menandakan bahwa sudah lama rumah ini ditinggal
Kenangan-kenangan kecil di setiap sudut rumah membuatku meneteskan air mata
Air mata kerinduan terhadap hadirnya seseorang
Sesekali aku seka air mataku namun tak habisnya keluar
Sebelas tahun berlalu engkau meninggalkan Kita
Air mata tak kunjung berhenti
Kepada Laki-laki yang selalu kurindukan di rumah ini
Kenangan kita, akan selalu aku kenang dan kuceritakan kepada anak-anakku kelak
Betapa bangganya seorang anak dari anak perempuanmu kepadamu
Hari mulai sore, aku yang masih duduk kebingungan
Adzan maghrib berkumandang
Kusudahi saja kesedihan untuk hari ini
Kepada laki-laki yang kupanggil Eyang Kakung
Semoga Kita bisa bertemu Kembali di SyurgaNya
Tulisan ini dibuat di rumah eyang
Makassar, 18 Juni 2021
Fikas Fabulostellar
malam itu terasa berat aku diam termenung kosong memandang namanya di depanku ingin menyapa tapi terlalu malu temanku bilang sapalah bergetar ponselku ternyata pesan itu sudah sampai 520 seperti dalam kata mandarin yang artinya aku suka padamu wo ai ni jantungku berdegup kencang tak mau stabil rangkaian kata mulai ku kirim padanya dan terjadilah keesokan harinya aku bertemu dengan 520 ku menyapa, berbincang seakan kita adalah sepasang kekasih yang akan berpisah jarak dan waktu akan memisahkan kita genggaman terakhir itu yang harusnya kita bersama hilang dalam angin berpisah sebentar untuk sementara kita bisa Balikpapan, 09 Agustus 2025 Fikas Fabulostellar
Komentar
Posting Komentar